Saya mencoba mengingat-ngingat; sejak kapan ya (acara) televisi sudah tidak menarik lagi?
Sebab ada masanya di mana televisi menjadi hiburan utama saya; yaitu di jaman anime Saint Seiya saat Putri Athena ketusuk panah di dadanya, jaman McGyver yang sekarat dan era keemasan Kotaro Minami berubah jadi RX, Robo dan Bio. Waktu itu, tiap pulang sekolah rame-rame nongkrong sama temen-temen di depan televisi dan ngobrolin episode minggu lalu dengan seru. Kayaknya, dulu saya hampir tidak pernah absen nonton film-film kegemaran.
Oh saya ingat!!
Yak! Seperti di postingan sebelumnya, saya sudah ‘membuang’ televisi di kamar saya. Yang berarti saya nggak lagi menonton tayangan dalam bentuk apapun di layar televisi. Sinetron, film, FTV, reality-show, iklan-iklan. Apapun.
Lantas, seorang teman dengan nggak sopan bilang, “Mas.. Asmirandah main sinetron lhoo. Mas, Asmirandah jadi bintang iklan shampoo dan operator lhoo…”
Krab! Saya buka-buka yutub doong. Dan mencari video dengan keyword you-know-who.
Si teman bilang lagi. “Udah lihat?”
“Ini lagi nyari-nyari di yutub.”
“Lho, kok malah nyari di yutub? Tipimu kemana?”
“Udah gak punya tipi. Aah, ceritanya panjang. Buka blogku saja..”
“Yaudah. Mumpung kamu sedang yutuban, lihat iklan ini sekalian…”
Apa korelasi buah bulet seger berwarna ijo dengan musik?
Jadi gini? Saya sudah mulai berhenti membajak lagu-lagu Indonesia karena; pertama, saya ndak paham lagu-lagu band masa kini; dan kedua, saya masih bisa menemukan CD (fisik) originalnya di toko-toko musik.
Yak, mesti belum sepenuhnya ‘bersih’, tapi saat ini saya sedang berusaha untuk menjauhkan diri dari yang namanya pembajakan. Saya biasanya mengunduh musik, hanya jika tidak menemukan CD originalnya di toko, biasanya lagu-lagu barat jadul atau yang udah langka ~atau karena memang musisinya menyediakan lagunya untuk diunduh secara gratis. (Seperti yang baru-baru ini, single 2011 milik The Strokes)
Banyak yang bilang, ngapain bayar kalau bisa gratis? Ngapain beli lagu, beli CD, atau beli DVD kalo bisa dapetin di internet secara gratis?
Saya gak bakat ngurus satu event. Tapi saya bahagia bisa bikin Parampaa Party (disingkat #ParamPaarty) yang dihadiri sebagian besar kawan-kawan saya yang keren.
Sinetron adalah singkatan dari “sinema elektronik”, ~istilah untuk menyebut suatu film drama bersambung yang ditayangkan di televisi. Dari wikipedia, sinetron di luar sana sama dengan “soap opera” atau istilah yang lebih populer lagi: telenovela.
Yang menarik, ciri khas dari sinetron atau telenovela adalah hampir selalu memakai judul dari nama perempuan si tokoh utama. Sebut saja; Intan, Cinta Fitri, Olivia, Kemilau Cinta Kamila, Betty La Fea, Maria Mercedes, Angela, Esmeralda dan lain-lain. (Jangan suudzon ya, saya gak apal lho!! Ini tau judul-judul di atas hasil dari googling!!!)
Kenapa sinetron suka memakai judul nama cewek? Apa karena feminin; menyesuaikan dengan kontennya yang tidak lepas dari tangisan perempuan?
Sekitar November, Abah bilang : “Va, nanti Desember –Abah diundang ceramah ke Hong Kong. Paspornya ada kan?”
“Hah? Iya ada.”
“Siap-siap!”
Begitulah. Tiba-tiba saya sudah packing dan berlatih bela diri (halah) untuk traveling ke negerinya Jackie Chan itu (iya kan, dia lahir di Hong Kong kan yah?). Sempet kebingungan karena paspor keselip entah kemana; lha wong emang jarang dipakai. Hahag. Trus untung saja, punya NPWP –jadinya bisa bebas biaya fiskal yang jutaan gitu.
Rombongan kami terdiri dari 4: saya, Abah, Mbak Ratih Sang –yang mengundang Abah– dan seorang Ibu mantan TKW di HK sebagai guide bernama Wongso. Iya, namanya Wongsowati siapa gitu.
Saat berkemas bersiap-siap, saya nanyak ke Pitra; di sana dingin engga –dia bilang “Sempat panas kok. Juga berangin. Kayak bandung. Bawa jaket aja.” Untuk lebih yakinnya, saya nanyak Momon yang juga sempet berlibur ke sana. Momon bilang: “Kemarin cuacanya menuju dingin, tapi masih panas kalau jaketan.” (kunjungi blog kedua kawan saya itu, ada kisah perjalanan di HK dan sekitarnya yang lebih asyik daripada yang tertulis di sini.)
Okay. Suhu di HK kayaknya gak gitu dingin. Sip lah, jadi tas bawaan gak terlalu berat dengan sweater dan jaket tebal.
Kamis sore 16 Desember 2010, rombongan berangkat ke bandara. Salam pamitan bla bla, trus malemnya terbang. Ngeeeeng. Skip aja yah, ngebosenin kalo diceritain apa yang terjadi di dalem kabin. Nggak ada hal yang menarik, kecuali fakta bahwa di samping saya ada pria wanita (tidak jelas jenis kelaminnya) yang dari take-off sampai landing kerjaannya cuma membaca majalah berbahasa kanton.
Tidur sejenak. Nyampe bandara Internasional Hong Kong jam satu lebih berapa gitu.
Begitu turun dari pesawat. Kayak masuk kulkas –no, kayak masuk freezer. Holikreb. Simcard tidak aktif, tapi di dalem Bandara dapet koneksi wifi. Saya langsung ngecek suhu udara di henpon.
Seorang kawan mengajak saya ikut main game Ionopolis ini. Game berbasis web yang memberikan edukasi tentang dehidrasi dengan ‘dipandu’ oleh seorang superhero bernama Pocariman. Dari dua keyword itu (Ion dan Pocari), jelas sekali kalau ini adalah proyek campaign kreatif dari produk minuman Pocari Sweat.
Awalnya sih agak ragu; jangan-jangan gamenya bakal norak. Saya keliru.Game ini norak abiiiissss!! Hoahahaha. Menggelikan dan jadinya malah menarik perhatian.
Lihat saja cuplikan komik di intro game-nya :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar